Jumat, 21 Januari 2011

MISKONSEPSI GURU DALAM KBM DI KELAS

MISKONSEPSI DALAM PEMBELAJARAN IPA SD

Oleh:

Nur Wijayanto dan Agus Zaenal Fanani

Pembelajaran IPA di sekolah dasar merupakan kegiatan pembelajaran yang menitikberatkan pada “kegiatan”. Dalam arti siswa dikondisikan melakukan kegiatan-kegiatan bukan diceramahi saja oleh guru. Siswa diajak bereksperimen, mengamati sesuatu ataupun berkarya wisata. Hal ini dilakukan atas dasar bahwa hakikat pembelajaran IPA adalah pengetahuan dibentuk atau dikonstruksi oleh siswa.

Pembelajaran IPA di sekolah dasar juga didasarkan karakteristik siswa. Piaget dalam Darmodjo dan Kaligis (1991/1992 : 19) menyatakan bahwa perkembangan intelektual siswa sekolah dasar (secara umum) berada pada tingkat operasional konkert (7-11 tahun). Pada tahap ini siswa berpikir atas dasar pengalaman konkret/nyata. Mereka belum dapat berpikir abstrak seperti membayangkan mimikri pada bunglon ataupun autotomi pada cecak.

Untuk dapat melakukan pembelajaran IPA yang dapat mengkonstruksi pengetahuan dan sesuai dengan karakteristik siswa, diperlukan kerja keras dan ketekunan guru dalam mempersiapkan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran. Dengan kata lain guru dituntut untuk “siap dan bisa” melaksanakan pembelajaran. Namun demikian masih terdapat guru yang Kurang “siap dan bisa” dalam melaksanakan pembelajaran IPA. Apabila hal ini tidak segera diatasi akan menimbulkan dampak-dampak yang merugikan siswa.

Salah satu dampak yang ditimbulakan oleh “kekurangsiapan dan kekurang-bisaan” ini adalah miskonsepsi. Novak dan Gowin dalam Yuliati (__:248) menyatakan bahwa miskonsepsi merupakan suatu interpretasi konsep-konsep dalam suatu pernyataan yang tidak dapat diterima. Sementara itu, Brown dalam Suparno, 2005:4 dalam Yuliati (__:248) menyatakan bahwa miskonsepsi merupakan penjelasan yang salah dan suatu gagasan yang tidak sesuai dengan pengertian ilmiah yang diterima para ahli. Berdasarkan dua pengetian ahli tersebut dapat dikatakan bahwa miskonsepsi (yang disebabkan guru) merupakan interpterasi atau pemahaman guru yang kurang tepat terhadap suatu konsep. Miskonsepsi-miskonsepsi apabila dibiarkan dan tidak segera diperbaiki akan menjadikan siswa melaksanakan konsep yang salah itu terus sepanjang hidupnya selama tidak ada perbaikan.

Bertolak dari paparan di atas, permasalahan yang dapat dirumuskan adalah: (1) Apa saja contoh miskonsepsi guru dalam pembelajaran IPA di sekolah dasar? (2) Bagaimana cara memperbaiki miskonsepsi tersebut?. Tujuan yang ingin dicapai adalah memaparkan beberapa contoh miskonsepsi guru saat pembelajaran IPA di sekolah dasar dan cara memperbaiki miskonsepsi tersebut.

BEBEPARA CONTOH MISKONSEPSI GURU SAAT PEMBELAJARAN IPA DI SEKOLAH DASAR

Beberapa contoh miskonsepsi guru saat pembelajaran IPA di sekolah dasar yang dibahas di dalam makalah ini adalah di dalam hanya terjadi pencernaan secara mekanik, air laut berwarna biru, jumlah air di dunia ini berkurang dari masa-kemasa, dan air akan mendidih pada suhu 100oC. Paparan beberapa miskonsepsi di atas adalah sebagai berikut.

Di dalam mulut hanya terjadi pencernaan secara mekanik

Pernyataan bahwa di dalam mulut hanya terjadi pencernaan secara mekanik adalah salah. Kenyataanya adalah di dalam mulut terjadi pencernaan secara mekanik dan secara kimiawi. Pencernaan secara mekanik dilakukan oleh gigi dengan cara memotong, mengunyah,atau menggigit makanan. Pencernaan secara kimiawi dilakukan oleh air ludah. Air ludah ini dihasilkan oleh kelenjar air ludah. Air ludah akan menguraikan zat tepung menjadi zat gula yang ada di dalam makanan.

Pernyataan yang salah tersebut awalnya muncul pada buku-buku teks sekolah dasar. Hal tersebut kemudian dipakai guru dalam melaksanakan pembelajaran IPA. Akibatnya adalah siswa mengalami miskonsepsi tentang pencernaan yang terjadi di dalam mulut.

Air laut berwarna biru

Air laut tidak memiliki warna. Warna air laut sama dengan warna air pada umumnya, yaitu bening atau tidak berwarna. Karena itu pernyataan air laut berwarna biru adalah salah. Pernyataan ini muncul dari pengamatan ketika pergi ke pantai dan memandang ke arah lautan akan nampak air laut berwarna biru.

Air laut merefleksikan warna langit (Anonymous, __:__). Cahaya matahari yang mengenai langitdan akan direfleksikan ke mata manusia. Karena langit berwarna biru maka hal inilah yang menjadikan air laut nampak berwarna biru.

Jumlah air di dunia ini berkurang dari masa-kemasa

Mengatakan Jumlah air di dunia berkurang dari masa-kemasa adalah sebuah kesalahan. Faktanya adalah jumlah air di dunia ini tetap. Sejalan dengan dengan fakta tersebut, Anonymous (__:__) menyatakan bahwa :

jumlah total air yang ada di Bumi saat ini relatif sama dengan saat Bumi ini tercipta. Yang berubah ada bentuk dari air tersebut dalam siklus air yang berlangsung terus menerus. Jadi air yang dipakai mandi oleh Pangeran Diponegoro bisa jadi sama dengan air yang sedang anda pakai untuk minum.

Tetapi dari semua air tersebut, hanya 3% saja yang merupakan air tawar dimana 97% lagi adalah air asin. dari 3% ini juga terbagi-bagi lagi dengan es, air tanah dan air permukaan seperti gambar di bawah ini.

Estimasi Distribusi Air

Sumber Air

Volume Air dalam Mil Kubik

Volume Air dalam

Kilometer Kubik

Persentase dari Total Air

Samudra, laut dan teluk

321,000,000

1,338,000,000

96.5%

Total Air Dunia

332,500,000

1,386,000,000

Disadur dari: Gleick, P. H., 1996: Water resources. In Encyclopedia of Climate and Weather, ed. by S. H. Schneider, Oxford University Press, New York, vol. 2, pp.817-823. USGS.

Jumlah air di dunia ini selalu tetap karena air mengalami siklus. Anonymous (__:__) menyatakan bahwa:

Siklus air atau siklus hidrologi adalah sirkulasi air yang tidak pernah berhenti dari atmosfer ke bumi dan kembali ke atmosfir melalui kondensasi, presipitasi, evaporasi dan transpirasi.

clip_image001

Pemanasan air laut oleh sinar matahari merupakan kunci proses siklus hidrologi tersebut dapat berjalan secara terus menerus. Air berevaporasi, kemudian jatuh sebagai presipitasi dalam bentuk hujan, salju, hujan batu, hujan es dan salju (sleet), hujan gerimis atau kabut.

Pada perjalanan menuju bumi beberapa presipitasi dapat berevaporasi kembali ke atas atau langsung jatuh yang kemudian diintersepsi oleh tanaman sebelum mencapai tanah. Setelah mencapai tanah, siklus hidrologi terus bergerak secara kontinu dalam tiga cara yang berbeda:

· Evaporasi / transpirasi - Air yang ada di laut, di daratan, di sungai, di tanaman, dsb. kemudian akan menguap ke angkasa (atmosfer) dan kemudian akan menjadi awan. Pada keadaan jenuh uap air (awan) itu akan menjadi bintik-bintik air yang selanjutnya akan turun (precipitation) dalam bentuk hujan, salju, es.

· Infiltrasi / Perkolasi ke dalam tanah - Air bergerak ke dalam tanah melalui celah-celah dan pori-pori tanah dan batuan menuju muka air tanah. Air dapat bergerak akibat aksi kapiler atau air dapat bergerak secara vertikal atau horizontal dibawah permukaan tanah hingga air tersebut memasuki kembali sistem air permukaan.

· Air Permukaan - Air bergerak diatas permukaan tanah dekat dengan aliran utama dan danau; makin landai lahan dan makin sedikit pori-pori tanah, maka aliran permukaan semakin besar. Aliran permukaan tanah dapat dilihat biasanya pada daerah urban. Sungai-sungai bergabung satu sama lain dan membentuk sungai utama yang membawa seluruh air permukaan disekitar daerah aliran sungai menuju laut.

Air permukaan, baik yang mengalir maupun yang tergenang (danau, waduk, rawa), dan sebagian air bawah permukaan akan terkumpul dan mengalir membentuk sungai dan berakhir ke laut. Proses perjalanan air di daratan itu terjadi dalam komponen-komponen siklus hidrologi yang membentuk sistem Daerah Aliran Sungai (DAS).Jumlah air di bumi secara keseluruhan relatif tetap, yang berubah adalah wujud dan tempatnya.Siswa yang berpikir kritis akan mengajukan pertanyaan jumlah air di dunia. Apabila dijawab oleh guru sesuai dengan jawaban jumlah air di dunia lama-kelamaan akan habis, berarti jawaban guru tersebut merupakan miskonsepsi.

Air akan mendidih pada suhu 100o C

Pernyataan air akan mendidih pada suhu 100o C tidak benar. Miskonsepsi ini sering muncul pada buku teks IPA sekolah dasar.

Faktanya adalah titik didih air di berbagai tempat adalah berbeda. Hal ini disebabkan oleh tekanan udara/tekanan atmosfer di daerah tersebut (Jek,__:__). Tekanan 1 atmosfer atau 1 atm adalah di permukaan laut. Semakin tinggi suatu tempat dari permukaan air laut, tekanan udaranya semakin rendah, sebaliknya semakin rendah suatu tempat dari permukaan air laut, tekanan udara di daerah tersebut semakin besar. Karena itu, orang di daerah pegunungan dan di daerah pantai akan mendapati air mendidih pada suhu yang berbeda. orang di daerah pegunungan akan mendapati air mendidih pada suhu di bawah 100o C. Sedangkan orang di daerah pantai akan mendapati air mendidih pada suhu 100o C.

CARA MEMPERBAIKI MISKONSESPSI

Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan untuk memperbaiki miskonsepsi. Adapun cara-cara tersebut adalah memperbanyak pengetahuan, mencoba kegiatan sebelum dilakukan di kelas, memilih metode dan media pembelajaran yang tepat, dan evaluasi diri. Penjelasan masing-masing cara tersebut adalah sebagai berikut.

Memperbanyak pengetahuan

Memperbanyak pengetahuan adalah upaya guru mengurangi ketertinggalannya atas fakta-fakta yang berkaitan dengan materi yang akan dilaksakan di kelas. Kegiatan memperbanyak pengetahuan dapat dilakukan dengan jalan mencari informasi di internet, membaca buku, atau bertanya kepada ahli.

Banyak situs baik situs dalam bahasa Indonesia ataupun dalam bahasa Inggris yang menyediakan sumber pembelajaran IPA dan juga forum-forum yang mebahas tentang permasalahan-permasalahan mengajar di kelas. Beberapa diantaranya adalah tempat bertanya bagaimana cara kerja sesuatu (www.howstuffworks.com, www.knowswhy.com), Pusat pengembangan dan pemberdayaan pendidik dan tenaga kependidikan ilmu pengetahuan alam atau P4TKIPA (http://www.p4tkipa.org), tempat membaca buku online secara gratis (http://.books.google.co.id) dan lain sebagainya.

Kegiatan mencaari informasi melalui buku bisa dilakukan dengan membaca di perpustakaan. Buku-buku di perpustakaan juga relatif lengkap. Selain itu buku di perputakaan juga bisa dipinjam.

Apabila guru mengalami kesulitan dalam mengajar IPA, guru yang bersangkutan dapat bertanya kepada ahli. Ahli yang dimaksud adalah dosen, rekan guru, pengawas, atau narasumber, dan lain sebaginya. Dengan bertanya kepada ahli, diharapkan guru memperoleh pengetahuan baru sehingga dapat memperbaiki miskonsepsi yang sudah dilakukan.

Mencoba kegiatan sebelum dilaksanakan di kelas

Hal ini merupakan kegiatan wajib bagi guru terutama bagi guru yang akan mengajak siswanya melakukan pengamatan atau percobaan. Dengan mencoba terlebih dahulu sebelum dilaksanakan di dalam kelas, guru akan memiliki gambaran tentang bagaimana jalannya kegiatan yang akan dilaksanakan di kelas nanti. Selain itu, guru juga memiliki kesiapan menjawab pertanyaan-pertanyaan siswa.

Memilih metode dan media pembelajaran yang tepat

Pemilihan metode dan media pembelajaran yang tepat adalah memilih metode dan media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan. Pembelajaran IPA menitikberatkan kepada pembelajaran yang berproses, sehingga hendaknya metode pembelajaran yang dipilih adalah metode pembelajaran eksperimen, proyek, atau demonstrasi.

Sedapat mungkin menghindari metode ceramah. Penggunaan metode ceramah yang berlebihan dikhawatirkan dapat menambah miskonsepsi siswa. Hal itu dikarenakan karakteristik siswa sekolah dasar adalah operasional konkret. Mereka akan dengan mudah memahai suatu informasi atau membentuk pengetahan dari apa yang mereka tangkap dengan panca indera mereka. Apabila mereka belajar dengan diberi ceramah saja, dikhawatirkan mereka akan kesulitan mengkonstruksi pengetahuan yang diberikan itu (lebih mengarah ke miskonsepsi).

Pemilihan media pembelajaran yang tepat juga penting. Media pembelajaran yang baik adalah media pembelajaran yang dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari. Karakteristik siswa sekolah dasar adalah operasional konkret. Untuk beberapa materi, media-media yang mengedepankan benda asli lebih dianjurkan daripada media-media gambar.

Evaluasi diri

Evaluasi diri yang dimaksud adalah keterbukaan menerima saran dan segera memperbaiki diri apabila melakukan kesalahan. guru hendaknya bersedia menerima sran dan kritik dari siapapun. Daran dan kritik ini diharapkan dapat meningkatkan semangat guru untuk mengurangi miskonsepsi yang sudah dilakukan.

KESIMPULAN

Beberapa contoh miskonsepsi guru saat pembelajaran IPA ini adalah di dalam hanya terjadi pencernaan secara mekanik, air laut berwarna biru, jumlah air di dunia ini berkurang dari masa-kemasa, dan air akan mendidih pada suhu 100oC. Adapun cara mengatasi miskonsepsi tersebut adalah memperbanyak pengetahuan, mencoba kegiatan sebelum dilakukan di kelas, memilih metode dan media pembelajaran yang tepat, dan evaluasi diri.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous.__.Fakta Air Di Bumi. Sayangi Penggunaannya (Online), (http://akuinginhijau.org/2009/05/27/fakta-air-di-bumi-sayangi-penggunaannya, diakses 17 Desember 2010).

Anonymous.__.Siklus Air (Online), (http://id.wikipedia.org/wiki/Siklus_air, diakses 17 desember 2010).

Anonymous.__.What IS The Blue Sea (online) (http://www.knowswhy.com/why-is-the-sea-blue/, diakses 17 desember 2010).

Darmono, Hendro dan Kaligis Jenny R.E. 1991/1992. Pendidikan IPA II. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pembinaan Tenaga kependidikan.

Jek.__.What Is The Boiling Of Water (Online), (http://wiki.answers.com/Q/What_is_the_boiling_point_of_water, diakses 17 Desember 2010).

Yuliati, Lia. __. Pengembangan IPA SD (Online). (http://tpardede.wikispaces.com diakses 15 Desember 2010).

Keterangan : Nur Wijayanto dan Agus Zaenal Fanani adalah mahasiswa program studi S1 PGSD Jurusan KSDP Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas akhir mata kuliah Pengembangan Pembelajaran IPA SD yang dibina oleh ibu Wasih DS, M.Pd

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pengikut

Mengenai Saya

Foto Saya
Blitar, Jawa Timur, Indonesia
Saya Adalah mahasiswa S 1 PGSD KSDP Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang dan juga sebagai guru sukwan di salah satu SD negeri di Kabupaten Blitar